Kesadaran Kristen: Popularitas dan Keuntungan Bukanlah Kunci Kebahagiaan

继续阅读“Kesadaran Kristen: Popularitas dan Keuntungan Bukanlah Kunci Kebahagiaan”

Apa arti doa dalam upacara keagamaan? Dapatkah itu mendatangkan perkenanan Tuhan?

Doa Orang Kristen | Apa arti doa dalam upacara keagamaan? Dapatkah itu mendatangkan perkenanan Tuhan?

Ayat Alkitab untuk Referensi:

“Dan ketika kamu berdoa, jangan menjadi seperti orang-orang munafik: karena mereka suka berdoa dengan berdiri di rumah-rumah ibadat dan di sudut-sudut jalan, agar mereka dapat dilihat orang” (Matius 6:5).

Firman Tuhan yang Relevan:

Iman di dalam Tuhan membutuhkan kehidupan rohani yang normal, yang merupakan dasar untuk mengalami firman Tuhan dan masuk ke dalam kenyataan. Apakah semua aktivitas rohanimu yang sekarang ini: berdoa, mendekat kepada Tuhan, menyanyikan lagu pujian, memuji Tuhan, perenungan, dan merenungkan firman Tuhan sama dengan “kehidupan rohani yang normal”? Sepertinya tak seorang pun dari antaramu yang tahu jawabannya. Kehidupan rohani yang normal tidak terbatas pada praktik-praktik seperti berdoa, menyanyikan lagu pujian, berpartisipasi dalam kehidupan bergereja, serta makan dan minum firman Tuhan. Sebaliknya, kehidupan rohani yang normal adalah hidup dalam kehidupan rohani yang baru dan penuh semangat.

继续阅读“Apa arti doa dalam upacara keagamaan? Dapatkah itu mendatangkan perkenanan Tuhan?”

Perlindungan Tuhan

Tuhan Yang Mahakuasa berkata: “Orang tidak dapat mengubah watak mereka sendiri; mereka harus menjalani penghakiman, hajaran, penderitaan dan pemurnian oleh firman Tuhan, atau ditangani, didisiplinkan, dan dipangkas oleh firman-Nya. Hanya setelah itulah mereka dapat mencapai ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan, dan tidak lagi bersikap sembarangan terhadap-Nya. Manusia mengalami perubahan watak berkat pemurnian oleh firman Tuhan. Hanya melalui penyingkapan, penghakiman, pendisiplinan, dan penanganan oleh firman-Nya mereka tidak akan lagi berani bertindak gegabah, tetapi sebaliknya akan menjadi mantap dan tenang. Hal yang paling penting adalah mereka mampu untuk tunduk pada firman Tuhan saat ini dan pekerjaan-Nya, bahkan seandainya firman dan pekerjaan itu tidak sejalan dengan pemahaman manusia, mereka dapat menyingkirkan pemahaman tersebut dan dengan rela tunduk” (“Orang-Orang Yang Wataknya Telah Berubah Adalah Mereka yang Telah Masuk ke Dalam Kenyataan Firman Tuhan” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). Ketika aku membaca Firman Tuhan ini sebelumnya, “Orang tidak dapat mengubah watak mereka sendiri; mereka harus menjalani penghakiman, hajaran, penderitaan dan pemurnian oleh firman Tuhan, atau ditangani, didisiplinkan, dan dipangkas oleh firman-Nya. Hanya setelah itulah mereka dapat mencapai ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan, dan tidak lagi bersikap sembarangan terhadap-Nya.” Aku tidak bisa mengerti mengapa manusia tidak mampu mengubah watak mereka sendiri. Aku membaca firman Tuhan dengan sungguh-sungguh setiap hari, aku selalu menghadiri pertemuan tepat waktu, dan aku tunduk pada tugas apa pun yang diberikan kepadaku oleh gereja. Kupikir asalkan aku tidak berbuat dosa, melakukan tugasku dengan baik, telah menjadi orang percaya selama bertahun-tahun, dan telah banyak membaca firman Tuhan, maka pasti watakku yang rusak akan berubah. Mengapa aku masih harus dihakimi dan dihajar, serta dipangkas dan ditangani oleh Tuhan? Aku tidak pernah benar-benar memahami Firman Tuhan yang kubaca ini sampai setelah aku dipangkas dengan keras dan ditangani beberapa kali, dan merenungkan diriku sendiri. Baru setelah itulah aku memahami betapa dalamnya aku telah dirusak oleh Iblis, bahwa natur jahatku yang congkak dan sombong telah begitu mengakar dalam diriku, dan tanpa dihakimi dan dihajar, serta dipangkas dan ditangani oleh Tuhan, aku tidak akan pernah mengenal diriku sendiri, apalagi disucikan atau diubahkan.

继续阅读“Perlindungan Tuhan”

Lagu Rohani Kristen 2021 | “Jadilah Seorang yang Menerima Kebenaran”

Lagu Rohani Kristen Terbaru 2021 | “Jadilah Seorang yang Menerima Kebenaran

Oh~ Pilih jalanmu, jangan tolak k’benaran

atau menghujat Roh Kudus.

Janganlah bebal, janganlah angkuh.

Turutilah bimbingan Roh Kudus.

Kembalinya Yesus itu k’selamatan besar

untuk semua yang mampu terima kebenaran.

Kembalinya Yesus itu kutukan

‘tuk m’reka yang tak mampu t’rima kebenaran. Oh~

Rindukanlah, carilah kebenaran.

继续阅读“Lagu Rohani Kristen 2021 | “Jadilah Seorang yang Menerima Kebenaran””

Kesaksian Rohani Kristen Terbaru-Mengenai Kedatangan Tuhan Kembali, Siapa Yang Harus Kita Dengarkan?

Kesaksian Rohani Kristen Terbaru 2020 – Mengenai Kedatangan Tuhan Kembali, Siapa Yang Harus Kita Dengarkan?

Tokoh utama mengenal seorang saudara dan saudari dari Gereja Tuhan Yang Mahakuasa di Facebook. Dia mendapati persekutuan mereka baru dan memberikan pencerahan. Dia mendapatkan makanan jiwa, tetapi saat mendengar mereka bersaksi bahwa Tuhan Yang Mahakuasa adalah Tuhan Yesus yang datang kembali, dia memikirkan penghakiman pendetanya melawan Gereja Tuhan Yang Mahakuasa. Dia langsung berjaga-jaga dan tak berani mempelajarinya. Namun, setelah berdoa dan mencari, dia menyadari bahwa dalam iman, semua harus dilakukan berdasarkan firman Tuhan, khususnya dengan sesuatu sepenting menyelidiki jalan yang benar. Mengikuti ucapan orang lain sama saja dengan memercayai dan mengikuti manusia. Dia memutuskan untuk menyelidiki pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman. Keraguannya hilang setelah membaca firman Tuhan Yang Mahakuasa. Dia menjadi yakin bahwa Tuhan Yang Mahakuasa adalah Tuhan Yesus yang kembali, dan dia menerima pekerjaan Tuhan Yang Mahakuasa pada akhir zaman. Di saat yang bersamaan, dia menjadi tahu tentang esensi yang menolak Tuhan dan munafik dari para pendeta dan penatua. Dia menyadari bahwa dengan mengikuti pendeta dan memercayai ucapan mereka, kesempatannya memasuki kerajaan surga akan hancur.

Rekomendasi: cara mengetahui kehendak tuhan

Keberuntungan dan Kemalangan

Keberuntungan dan Kemalangan

Oleh Saudari Dujuan, Jepang

Aku dilahirkan dalam sebuah keluarga miskin di sebuah desa di pedesaan Tiongkok. Oleh karena kesulitan ekonomi keluargaku, kadang-kadang aku harus tidak makan, apalagi menikmati cemilan dan mainan. Terlebih lagi, semua pakaianku merupakan warisan kakak perempuanku. Oleh karena pakaiannya biasanya kebesaran untukku, teman-teman sekelasku akan menertawakanku dan menolak bermain denganku. Aku sangat menderita sepanjang masa kecilku. Sejak saat itu, aku bertekad dalam hati: Saat aku tumbuh dewasa nanti, aku harus menghasilkan banyak uang dan menonjol di atas rekan-rekanku. Aku tidak akan membiarkan orang lain memandang rendah diriku lagi. Oleh karena keluargaku tidak punya uang, aku terpaksa putus sekolah sebelum lulus SMP dan bekerja di sebuah pabrik obat di kota kabupaten. Untuk menghasilkan lebih banyak uang, aku sering bekerja lembur hingga pukul 9 atau 10 malam, tetapi, meskipun sudah berusaha keras, aku hanya mendapatkan upah sedikit sekali. Pada suatu ketika, aku mendengar bahwa kakak perempuanku dalam lima hari menjual sayuran dapat menghasilkan apa yang aku hasilkan dalam sebulan, jadi aku berhenti dari pekerjaanku di pabrik obat dan mulai menjual sayuran. Setelah beberapa saat, aku mendapati bahwa aku dapat menghasilkan lebih banyak uang dengan menjual buah-buahan, jadi aku memutuskan untuk memulai bisnis buah-buahan. Setelah aku menikah dengan suamiku, kami membuka restoran kami sendiri. Aku berpikir bahwa karena sekarang aku sudah punya restoran, aku akan bisa menghasilkan lebih banyak uang. Begitu aku bisa mendapatkan penghasilan yang cukup besar, aku secara alami akan mendapatkan kekaguman dan rasa hormat dari rekan-rekanku dan, pada saat yang sama, aku juga akan bisa menjalani gaya hidup kelas atas. Namun, setelah mengelola bisnis untuk sementara waktu, aku mendapati bahwa kami tidak dapat menghasilkan uang sebanyak itu. Aku mulai cemas dan khawatir. Kapan aku bisa menjalani kehidupan yang akan dikagumi oleh orang lain?

Pada 2008, sebuah peluang acak muncul. Aku mengetahui dari seorang teman bahwa di Jepang, upah satu hari kira-kira sama dengan upah sepuluh hari di Tiongkok. Saat mendengar hal ini, aku sangat bersukacita. Aku pikir bahwa akhirnya aku menemukan peluang bagus untuk menghasilkan uang. Meskipun biaya agen untuk pergi ke Jepang mahal, aku berpikir: “Tidak ada usaha, tidak ada hasil. Berapa pun biaya agen, asalkan kami punya pekerjaan di Jepang, kami akan dapat mengembalikan uang itu dengan cepat.” Untuk mewujudkan impian kami menjalani kehidupan yang lebih baik, aku dan suamiku memutuskan untuk segera pergi ke Jepang. Setelah tiba di Jepang, kami dapat menemukan pekerjaan dengan sangat cepat. Setiap hari, aku dan suamiku bekerja selama lebih dari sepuluh jam. Tekanan kerja cukup signifikan dan aku merasa sangat lelah sepanjang hari. Setelah bekerja, yang ingin aku lakukan hanyalah berbaring dan beristirahat—bahkan makan tampak seperti pekerjaan berat bagiku. Aku merasa sulit untuk bertahan dalam gaya hidup yang serbacepat. Namun, saat aku memikirkan tentang semua uang yang akan aku miliki setelah berjuang selama beberapa tahun, aku akan mendorong diriku sendiri dengan berpikir: “Sekarang mungkin harus bekerja keras, tetapi di masa mendatang engkau akan menjalani kehidupan yang indah. Jadi, teruslah berjalan dan jangan menyerah.” Jadi, setiap hari aku bersusah payah, bekerja tanpa henti seperti mesin penghasil uang. Pada 2015, akhirnya aku ambruk karena beban pekerjaan yang berat. Aku pergi ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan dan dokter memberitahuku bahwa aku menderita saraf terjepit dan itu menekan saraf. Jika aku terus bekerja seperti biasa, pada akhirnya aku akan terbaring di tempat tidur dan tidak mampu mengurus diriku sendiri. Berita ini menyambarku bagai petir di siang bolong. Seketika, aku menjadi sangat lemah. Hidupku baru saja mulai membaik, dan aku semakin dekat dengan impianku. Aku tidak akan pernah berpikir bahwa aku akan sakit. Aku menolak menyerah. Aku berpikir: “Aku masih muda. Aku bisa bekerja keras dan memaksa diri melalui ini. Jika aku tidak menghasilkan lebih banyak uang sekarang, dan kembali ke Tiongkok dengan penghasilan yang sangat sedikit, tidakkah aku akan semakin kehilangan muka?” Maka, aku terus menyeret tubuhku yang sakit untuk bekerja setiap hari agar menghasilkan lebih banyak uang. Namun, setelah beberapa hari, aku sakit parah sehingga benar-benar tidak bisa bangun dari tempat tidur.

Saat berbaring di tempat tidur di rumah sakit tanpa ada yang merawatku, aku merasa sangat sengsara. “Bagaimana bisa aku berakhir dalam situasi seperti ini? Apakah aku benar-benar akan berakhir di tempat tidur?” Betapa aku berharap pada saat itu ada seseorang yang duduk di sisiku. Sayangnya, suamiku sedang bekerja dan putraku sedang sekolah. Atasan dan rekan-rekanku hanya mementingkan keuntungan pribadi mereka sendiri; tak satu pun dari mereka menunjukkan perhatian sedikit pun. Saat aku melihat sekeliling bangsal orang sakit pada semua pasien yang beraneka macam, masing-masing terserap dalam penderitaan mereka sendiri, aku mengalami semacam kesedihan yang tak terungkapkan dan mau tidak mau merenung: Apa tujuan hidup? Bagaimana seseorang bisa menjalani kehidupan yang bermakna? Bisakah uang benar-benar membeli kebahagiaan? Aku merenungkan apa yang harus aku tunjukkan selama 30 tahun berjuang. Aku pernah bekerja di pabrik obat, berjualan buah-buahan, menjalankan restoran, dan pergi ke Jepang untuk bekerja. Meskipun aku memang mendapatkan uang selama bertahun-tahun ini, itu semua akhirnya mengorbankan kebahagiaanku sendiri, dan tidak ada seorang pun yang bisa menjadi tempatku menceritakan penderitaanku. Aku pernah berpikir bahwa begitu aku tiba di Jepang, aku akan bisa mewujudkan impianku dengan sangat cepat. Setelah beberapa tahun di Jepang, saat aku kembali ke Tiongkok, aku akan dapat memulai hidup baru dalam kekayaan dan kemegahan dan membuat iri teman-teman sebayaku. Namun, sekarang di sinilah aku, berbaring di atas ranjang rumah sakit dan bahkan menghadapi kemungkinan menghabiskan seluruh paruh kedua hidupku terkungkung di atas kursi roda dan terus-menerus kesakitan…. Saat memikirkan hal ini, aku mulai menyesal bahwa aku telah mempertaruhkan hidupku hanya untuk mendapatkan uang dan kesuksesan dalam hidup. Semakin aku memikirkan hal ini, semakin banyak air mata pahit mulai mengalir di wajahku. Dalam kesakitan, aku tidak dapat menahan diri untuk berseru di dalam hati: “Oh, Surga! Selamatkan aku! Mengapa hidup sekejam ini?”

Tepat saat aku tenggelam dalam kesedihan dan ketidakberdayaan yang paling dalam, keselamatan Tuhan Yang Mahakuasa datang kepadaku dan penyakitku menjadi berkat bagiku. Secara kebetulan, aku berkenalan dengan tiga saudari dari Gereja Tuhan Yang Mahakuasa. Dengan membaca firman Tuhan bersama-sama dengan mereka, aku mengerti bahwa semua hal di surga dan di bumi tidak muncul dari proses alami, tetapi diciptakan oleh Tuhan, bahwa Tuhan adalah Penguasa dari seluruh alam semesta, bahwa nasib manusia juga berada di tangan Tuhan, bahwa Tuhan selama ini telah membimbing dan menyediakan bagi umat manusia, dan bahwa Dia senantiasa memelihara dan melindungi umat manusia. Aku merasakan betapa Tuhan sangat mengasihi manusia. Namun, ada sesuatu yang masih tidak kumengerti: Tuhan menguasai dan mengendalikan nasib kita, dan seharusnya kita bahagia dan bersukacita, jadi mengapa kita masih mengalami sakit dan derita? Mengapa hidup begitu sulit? Di mana tepatnya rasa sakit dalam hidup itu datang? Suatu hari, aku memberi tahu para saudari tentang kebingunganku. Seorang saudari membacakan satu bagian dari firman Tuhan Yang Mahakuasa untukku: “Dari mana asalnya rasa sakit melahirkan, kematian, penyakit, dan usia tua yang muncul di sepanjang hidup manusia? Karena apa manusia pertama-tama mengalami hal-hal tersebut? Manusia tidak mengalami hal-hal itu ketika mereka pertama kali diciptakan, bukan? Jadi dari mana datangnya semua itu? Semuanya ini datang setelah manusia dirusak oleh Iblis dan daging mereka merosot, yaitu rasa sakit daging, masalah, kehampaan daging, dan kesengsaraan dunia yang ekstrem. Setelah Iblis merusak manusia, manusia lalu menjadi semakin merosot, penyakit manusia semakin parah, dan penderitaan mereka menjadi semakin lama semakin berat. Manusia merasa semakin lama semakin merasakan kekosongan, tragedi dan tidak mampu untuk terus hidup dalam dunia, dan mereka merasa semakin lama semakin kehilangan harapan untuk dunia. Jadi penderitaan ini dibawa oleh Iblis kepada manusia dan hal ini terjadi hanya setelah manusia dirusak Iblis dan daging manusia menjadi merosot” (“Makna dari ‘Tuhan Menanggung Penderitaan Dunia'” dalam “Rekaman Pembicaraan Kristus”). Saudari itu bersekutu denganku dengan mengatakan, “Pada mulanya ketika Tuhan menciptakan manusia, Tuhan menyertai mereka, dan Dia merawat dan melindungi mereka. Pada saat itu tidak ada kelahiran, penuaan, penyakit, atau kematian, dan tidak ada kekhawatiran atau gangguan. Manusia hidup bebas dari kecemasan dan kekhawatiran di Taman Eden, menikmati semua hal yang diberikan Tuhan kepada mereka. Umat manusia hidup bahagia dan bersukacita di bawah bimbingan Tuhan. Namun, setelah manusia dibujuk dan dirusak oleh Iblis, mereka mengkhianati Tuhan dan mengindahkan kata-kata Iblis daripada firman Tuhan. Oleh karena alasan inilah manusia kehilangan perhatian, perlindungan, dan berkat Tuhan, dan jatuh ke dalam wilayah kekuasaan Iblis. Selama ribuan tahun, Iblis telah secara konsisten menggunakan ajaran sesat dan kecanggihan seperti materialisme, ateisme, dan evolusionisme, serta absurditas dan kebohongan yang dipublikasikan oleh orang-orang hebat dan selebritas untuk menipu dan melukai orang-orang: ‘Tuhan tidak ada sama sekali’, ‘Belum pernah ada Juruselamat mana pun’, ‘Takdir seseorang berada di tangannya sendiri’, ‘Menonjolkan diri dan membawa kehormatan bagi nenek moyangnya’, ‘Tiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan yang ketinggalan akan dimangsa’, ‘Manusia akan melakukan apa pun untuk menjadi kaya’, ‘Uang membuat dunia berputar’, dan ‘Uang yang terpenting’, dan seterusnya. Setelah manusia menerima absurditas dan bidat ini, mereka menyangkal keberadaan Tuhan, menyangkal kedaulatan Tuhan, dan mengkhianati Tuhan. Mereka ingin mengandalkan kedua tangan mereka sendiri untuk menciptakan kehidupan yang bahagia. Watak manusia juga menjadi semakin congkak dan angkuh. Mereka menjadi semakin merasa benar sendiri, egois, licik, dan jahat. Segala bentuk persekongkolan, intrik, dan persaingan muncul di antara manusia dalam perjuangan mereka untuk meraih status, kekayaan, dan keuntungan pribadi. Mereka saling berkelahi dan saling menipu, dan dalam prosesnya menjadi semakin merasa cemas dan kelelahan. Pada akhirnya, ini membuat mereka menjadi sakit, mengalami kesakitan dan penderitaan dan menjadi hampa secara rohani. Rasa sakit dan kecemasan ini membuat kita merasa bahwa kehidupan manusia di dunia ini terlalu berupaya, terlalu melelahkan, dan terlalu penuh dengan penderitaan. Ini semua terjadi setelah Iblis merusak manusia, Iblislah yang melukai kita, dan itu jugalah konsekuensi pahit bagi umat manusia yang menyangkal, menjauhi, dan mengkhianati Tuhan.”

Saudari itu melanjutkan persekutuannya denganku, dengan mengatakan, “Tuhan tidak tahan menyaksikan umat manusia terus dirusak dan dilukai oleh Iblis dan karenanya Dia berinkarnasi dua kali di tengah manusia untuk menebus dan menyelamatkan kita umat manusia yang rusak. Terutama pada akhir zaman, Kristus yang berinkarnasi telah mengungkapkan jutaan firman; firman-firman ini adalah kebenaran yang memungkinkan orang-orang untuk merebut diri dari kerusakan oleh Iblis, untuk disucikan dan diselamatkan sepenuhnya. Selama kita mendengarkan firman Tuhan dan memahami kebenaran di dalam firman Tuhan, kita akan dapat membedakan dan melihat dengan jelas semua metode dan cara Iblis dalam merusak manusia. Kita akan memahami esensi jahat Iblis dan memiliki kekuatan untuk meninggalkan Iblis, membebaskan diri dari bahaya Iblis, kembali ke hadapan Tuhan, memperoleh keselamatan Tuhan, dan pada akhirnya, dibawa oleh Tuhan ke tujuan akhir yang indah.” Saat mendengar bahwa Tuhan secara pribadi datang untuk menyelamatkan umat manusia, aku menjadi sangat terharu. Aku benar-benar tidak ingin Iblis terus melukaiku, jadi aku memberi tahu para saudari tentang rasa sakit dan kebingunganku: “Ada masalah yang tidak aku mengerti. Ada pepatah mengatakan, ‘Manusia bergelut ke atas; air mengalir ke bawah.’ Aku telah bekerja sangat keras untuk menonjol dan menjalani kehidupan yang nyaman, dan menurut norma-norma sosial, ini akan terlihat sebagai sesuatu yang idealis dan ambisius. Mungkinkah cara hidup ini juga merupakan cara Iblis dalam melukai kita?”

Saudari itu membacakan dua bagian dari firman Tuhan Yang Mahakuasa kepadaku: “Selama proses manusia mempelajari pengetahuan, Iblis akan menggunakan metode apa pun, apakah itu menjelaskan cerita, memberi mereka satu bagian pengetahuan saja, atau memberi kesempatan kepada mereka untuk memuaskan keinginan mereka atau memenuhi cita-cita mereka. Ke jalan manakah Iblis ingin membawamu? Manusia mengira bahwa tidak ada salahnya mempelajari pengetahuan, bahwa itu adalah hal yang wajar. Secara halus, membangun cita-cita yang mulia atau memiliki ambisi berarti memiliki aspirasi, dan seharusnya ini adalah jalan yang benar dalam kehidupan. Jika orang dapat mewujudkan cita-cita mereka sendiri, atau berhasil berkarier dalam kehidupan mereka—bukankah lebih mulia hidup seperti itu? Bukan sekadar menghormati leluhur seseorang dengan cara itu, tetapi juga mungkin meninggalkan jejak dalam sejarah—apakah ini bukan hal yang baik? Ini adalah hal yang baik di mata manusia duniawi, dan bagi mereka hal itu seharusnya tepat dan positif. Akan tetapi, apakah Iblis dengan maksudnya yang jahat, sekadar membawa manusia ke jalan semacam ini dan kemudian memutuskan bahwa semuanya sudah selesai? Tentu saja tidak. Kenyataannya, tidak peduli betapa pun mulianya cita-cita manusia, tidak peduli betapa pun realistisnya hasrat manusia atau betapa pun baiknya semua itu, segala hal yang ingin dicapai manusia pasti terkait erat dengan dua kata. Kedua kata ini sangat penting bagi kehidupan setiap orang, dan ini adalah hal-hal yang Iblis ingin tanamkan dalam diri manusia. Dua kata apakah ini? Kedua kata ini adalah ‘popularitas’ dan ‘keuntungan’: Iblis menggunakan cara yang sangat halus, cara yang sangat sesuai dengan pemahaman manusia; ini sama sekali bukan cara yang radikal. Tanpa disadari, manusia mulai menerima cara hidup Iblis, aturan hidup Iblis, menetapkan tujuan hidup dan arah hidup mereka, dan dengan berbuat demikian mereka juga tanpa disadari memiliki cita-cita dalam kehidupan. Tidak peduli betapa mengesankan kedengarannya cita-cita ini dalam kehidupan, ini hanyalah sebuah dalih yang terkait erat dengan popularitas dan keuntungan. Setiap orang hebat atau terkenal, pada kenyataannya semua orang, apa pun yang mereka kejar dalam kehidupan hanya terkait dengan dua kata ini: “popularitas” dan “keuntungan”. Manusia mengira bahwa begitu mereka memiliki popularitas dan keuntungan, mereka dapat memanfaatkan hal itu untuk menikmati status yang tinggi dan kekayaan yang besar, serta menikmati hidup. Begitu mereka memiliki popularitas dan keuntungan, mereka dapat memanfaatkan hal itu untuk mencari kesenangan dan kenikmatan daging yang tak bermoral. Manusia dengan rela, meski tanpa disadari, membawa tubuh, pikiran, semua yang mereka miliki, masa depan serta nasib mereka, dan menyerahkan semuanya kepada Iblis untuk mencapai popularitas dan mendapatkan keuntungan yang mereka inginkan. Manusia sesungguhnya melakukan hal ini tanpa ragu sedikit pun, sama sekali tidak menyadari perlunya memulihkan semua itu. Masih bisakah manusia memiliki kendali atas diri mereka sendiri begitu mereka berlindung pada Iblis dan menjadi setia kepadanya dengan cara ini? Tentu saja tidak. Mereka sepenuhnya dan seutuhnya dikendalikan oleh Iblis. Mereka juga telah sepenuhnya dan seutuhnya tenggelam ke dalam rawa dan tidak mampu membebaskan diri mereka sendiri. Begitu seseorang terperosok dalam popularitas dan keuntungan, mereka tidak lagi mencari apa yang terang, apa yang benar atau hal-hal yang indah dan baik. Ini karena kekuatan yang menggoda dari popularitas dan keuntungan terhadap manusia sangatlah besar, dan menjadi perkara-perkara yang dikejar oleh manusia sepanjang hidup mereka dan bahkan untuk selama-lamanya tanpa akhir. Bukankah ini benar?” (“Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik VI” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). “Jadi, Iblis menggunakan popularitas dan keuntungan untuk mengendalikan pikiran manusia hingga yang dapat mereka pikirkan hanyalah popularitas dan keuntungan. Mereka berjuang demi popularitas dan keuntungan, menderita kesulitan demi popularitas dan keuntungan, menanggung penghinaan demi popularitas dan keuntungan, mengorbankan segala yang mereka miliki demi popularitas dan keuntungan, dan mereka akan membuat pertimbangan atau keputusan demi popularitas dan keuntungan. Dengan cara ini, Iblis mengikat manusia dengan belenggu yang tak terlihat. Belenggu ini dikaitkan pada manusia, dan mereka tidak memiliki kekuatan ataupun keberanian untuk melepasnya. Jadi, tanpa menyadarinya, manusia mengenakan belenggu ini dan melangkah maju dengan susah payah dan penuh kesulitan” (“Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik VI” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”).

Seusai membaca firman Tuhan, saudari itu bersekutu denganku mengenai fakta dan kenyataan tentang penggunaan popularitas dan keuntungan oleh Iblis untuk merusak manusia. Baru pada saat itulah aku mengerti bahwa semua yang memegang kekuasaan di dunia ini dan yang mengendalikan umat manusia adalah kekuatan jahat Iblis, bahwa orang-orang yang terkenal dan terpandang adalah raja setan yang merusak manusia, dan bahwa ateisme Marx dan teori evolusi yang dikemukakan oleh Darwin telah menipu dan merusak manusia hingga ke tingkat yang ekstrem, dan telah menyebabkan umat manusia menjauhi Tuhan dan mengkhianati-Nya. Baru pada saat itulah aku menyadari bahwa buku-buku yang telah aku baca pada masa lalu semuanya dipenuhi dengan racun Iblis, filsafat Iblis, dan logika Iblis. Jika bukan karena firman Tuhan yang diungkapkan kepadaku bagaimana Iblis si setan telah merusak manusia, aku akan tetap tertipu dan dikendalikan oleh Iblis, berjuang keras dalam kegelapan. Tidak ada yang salah dengan manusia yang memiliki cita-cita dan aspirasi itu sendiri, tetapi dalam proses pengejaran cita-cita manusia, Iblis menggunakan segala macam metode untuk menanamkan pada manusia metode dan prinsip bertahan hidup, membujuk manusia untuk hidup hanya demi popularitas dan keuntungan. Ketika manusia mengorbankan diri dan berjuang demi popularitas dan keuntungan, mereka tidak lagi mencari apa itu terang, dan bagaimana menjalani kehidupan yang bermakna, karena daya tarik popularitas dan keuntungan begitu besar bagi kita, dan kita menjadi begitu terobsesi dengan semua itu sehingga kita tidak punya cara untuk membebaskan diri kita. Inilah belenggu yang digunakan Iblis untuk mengikat tubuh kita, persekongkolan licik yang digunakan Iblis untuk merusak manusia. Saat merenung kembali, dalam mengejar keunggulan di atas rekan-rekanku dan mendapatkan uang untuk memenangkan kekaguman orang lain, aku telah kehilangan kesadaran diri, menjadi mesin penghasil uang tanpa jiwa, dan bahkan mengorbankan kesehatanku demi popularitas dan keuntungan tanpa merasa khawatir sedikit pun. Aku benar-benar telah menjadi budak uang, popularitas dan keuntungan. Oleh karena aku berada di bawah kendali pandangan hidup keliru yang diungkapkan dalam perkataan “Menonjolkan diri dan membawa kehormatan bagi nenek moyangnya,” aku berusaha keras untuk terus berjuang, selalu ingin menjadi yang lebih baik. Aku tidak pernah puas, dan aku baru berhenti karena aku telah menggerakkan tubuhku ke jurang kehancuran dan tidak punya pilihan lain. Pengejaran popularitas dan keuntungan benar-benar membuat hidupku begitu sulit dan melelahkan! Jika bukan karena pengungkapan dari firman Tuhan Yang Mahakuasa, aku tidak akan pernah tahu bahwa pengejaranku akan kekayaan, popularitas dan keuntungan adalah salah dan bahwa ini adalah salah satu metode yang digunakan oleh Iblis secara serius untuk melukai manusia, apalagi aku akan memahami motif jahat dan rancangan licik yang digunakan oleh Iblis untuk merusak manusia. Setelah ini, saudari itu membacakan kepadaku beberapa bagian dari firman Tuhan Yang Mahakuasa, dan melalui persekutuannya tentang firman Tuhan dan berbagai metode serta cara yang digunakan Iblis untuk merusak umat manusia, aku memahami bahwa dengan terus mencari popularitas dan keuntungan selama bertahun-tahun ini, aku telah diliputi rasa sakit, dan pada akhirnya jatuh sakit. Semua rasa sakit ini adalah hasil dari tidak percaya kepada Tuhan dan tidak mengetahui kebenaran—aku telah dilukai dan dirusak oleh Iblis!

Setelah itu, para saudari itu sering datang untuk berbagi persekutuan denganku tentang firman Tuhan. Berangsur-angsur, aku menjadi semakin yakin tentang pekerjaan Tuhan pada akhir zaman, aku mengembangkan beberapa pembedaan sehubungan dengan cara-cara yang digunakan Iblis untuk melukai manusia, dan aku mengerti bahwa yang paling penting adalah percaya kepada Tuhan, membaca firman Tuhan, mengejar kebenaran, dan tunduk pada aturan dan penataan Tuhan. Hanya dengan hidup dengan cara ini aku akan menerima pujian dari Tuhan, dan menjalani kehidupan yang paling bermakna dan menyenangkan! Tak lama setelah itu, aku mengetahui bahwa salah satu rekan perempuanku juga datang ke Jepang bersama suaminya untuk mencari pekerjaan dan menghasilkan uang, tetapi meskipun telah menghasilkan uang, suaminya mulai mengalami ketidaknyamanan fisik dan kemudian tidak punya pilihan selain pulang untuk menjalani perawatan. Sekembalinya ke rumah, pemeriksaan mengungkapkan bahwa dia menderita kanker stadium akhir. Setelah diagnosis, mereka tidak lagi ingin datang ke Jepang untuk mengumpulkan uang. Seluruh keluarganya hidup dalam ketakutan dan kesedihan. Kemalangan rekanku memberiku perasaan mendalam tentang kerapuhan dan berharganya kehidupan manusia. Jika kita kehilangan kehidupan, apa gunanya memiliki lebih banyak uang? Bisakah uang membeli kehidupan? Suatu hari, aku membaca firman Tuhan Yang Mahakuasa, yang menyatakan: “Orang-orang menghabiskan hidup mereka mengejar uang dan ketenaran; mereka terus mengharap pada kedua hal ini, menganggap hal-hal tersebut sebagai satu-satunya penyokong mereka, seakan dengan memiliki hal-hal tersebut mereka bisa terus hidup, bisa terhindar dari maut. Namun, hanya ketika mereka sudah dekat dengan ajal barulah mereka sadar betapa jauhnya hal-hal itu dari mereka, betapa lemahnya mereka di hadapan maut, betapa rapuhnya mereka, betapa sendirian dan tidak berdayanya mereka, tanpa arah untuk berbalik. Mereka menyadari bahwa hidup tidak bisa dibeli dengan uang atau ketenaran, bahwa tidak peduli seberapa kaya seseorang, tidak peduli seberapa tinggi kedudukannya, semua orang sama-sama miskin dan tidak berarti di hadapan maut. Mereka menyadari bahwa uang tidak bisa membeli kehidupan, bahwa ketenaran tidak bisa menghapus kematian, bahwa baik uang maupun ketenaran tidak dapat memperpanjang hidup mereka barang semenit atau sedetik pun” (“Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik III” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). Firman Tuhan memungkinkanku untuk melihat dengan lebih jelas bahwa Iblis menggunakan uang dan popularitas untuk membelenggu dan melukai manusia, dan menghancurkan banyak kehidupan orang. Namun, karena kita tidak memahami rancangan Iblis, dan kita gagal menyadari bahwa uang dan popularitas adalah alat yang Iblis gunakan untuk menyiksa umat manusia, kita terseret tak berkutik ke dalam pusaran itu, dan, meskipun tidak menginginkannya, kita ditipu dan dirusak oleh Iblis. Pada saat itu, aku menyadari betapa beruntungnya aku dapat menerima pekerjaan akhir zaman dari Tuhan Yang Mahakuasa. Seandainya tidak membaca firman Tuhan Yang Mahakuasa, aku tidak akan pernah memahami kebenaran tentang penggunaan uang dan popularitas oleh Iblis untuk menyakiti manusia, dan cepat atau lambat, aku juga akan ditelan oleh Iblis.

Saat aku sedang sakit, para saudari di gereja sering menghubungiku. Oleh karena aku tidak bisa menggerakkan punggungku, para saudari itu akan memberiku pijatan dan bekam. Salah satu saudari yang terlatih secara medis memberitahuku titik akupunktur mana yang harus ditekan untuk memulihkan kondisiku. Mereka juga secara aktif membantuku melakukan pekerjaan rumah tangga, merawatku seolah-olah mereka keluarga sendiri. Sebagai seorang ekspatriat di negara asing, aku tidak punya siapa pun yang dapat aku andalkan, jadi aku benar-benar tersentuh bahwa saudari-saudari ini merawatku dengan lebih baik daripada saudaraku sendiri. Aku berterima kasih berulang kali kepada mereka. Namun, saudari-saudariku berkata kepadaku, “Ribuan tahun yang lalu, Tuhan telah menentukan takdir dan memilih kita. Sekarang, Dia telah mengatur agar kita dilahirkan pada akhir zaman dan, sepanjang kita menerima pekerjaan Tuhan akhir zaman, berjalan di jalan ini bersama. Ini aturan Tuhan. Kita semua sebenarnya sudah keluarga sejak dulu. Hanya saja kita terpisah dan baru sekarang kita dipersatukan kembali.” Setelah saudariku mengatakan ini, aku tidak bisa lagi mengendalikan emosiku dan memeluk mereka, air mata mengalir di wajahku. Pada saat itu, aku merasakan kedekatan dengan saudariku yang tidak dapat aku gambarkan. Hatiku bahkan semakin bersyukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa daripada sebelum-sebelumnya.

Berangsur-angsur dan tanpa terasa, penyakitku mulai membaik. Setelah mengalami siksaan penyakit ini, aku merenungkan bagaimana aku telah berada di bawah kendali filosofi kehidupan Iblis. Selama ini, aku berusaha untuk menonjol di antara teman-temanku, dengan kuat meyakini bahwa dengan melakukan hal itu aku akan bisa menjalani kehidupan yang bahagia dan akan menerima kekaguman dan kecemburuan dari orang-orang di sekitarku. Namun, aku tidak pernah memikirkan apa yang akan aku dapatkan adalah rasa sakit dan kesedihan, tanpa sedikit pun kedamaian dan kebahagiaan. Sekarang aku telah membaca firman Tuhan dan memahami kehendak Tuhan, aku tidak lagi berkeinginan untuk berjuang melawan takdir dan juga tidak ingin mencari popularitas dan keuntungan. Bukan ini kehidupan yang aku inginkan. Sekarang, selain pergi bekerja, aku sering menghadiri kebaktian, membaca firman Tuhan dan berbagi pengalaman dan pemahamanku sendiri dengan saudara-saudariku. Aku juga belajar menyanyikan lagu-lagu pujian. Aku menjalani kehidupan yang bahagia dan telah mendapatkan semacam kepastian dan kedamaian yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.

Suatu hari, selama kebaktianku, aku menemukan firman Tuhan berikut ini: “Ketika seseorang melihat ke belakang ke jalan yang sudah ia tinggalkan, saat ia mengingat setiap fase perjalanannya, ia melihat bahwa pada setiap langkah, baik perjalanan tersebut mulus atau sulit, Tuhan sedang membimbing arah perjalanannya, dan merencanakannya. Dengan penataan cermat, Tuhan, oleh perencanaan-Nya yang hati-hati, memimpin seseorang, tanpa disadari, sampai hari ini. Agar bisa menerima kedaulatan Sang Pencipta, untuk menerima keselamatan-Nya—sungguh keuntungan yang besar! … Apabila seseorang bersikap aktif terhadap kedaulatan Tuhan, ketika ia menoleh kembali perjalanannya, saat ia benar-benar telah menerima kedaulatan Tuhan, ia akan memiliki hasrat yang tulus untuk tunduk kepada semua yang telah diatur oleh Tuhan. Ia akan memiliki tekad dan kepercayaan diri lebih besar untuk membiarkan Tuhan mengatur nasibnya, berhenti memberontak terhadap Tuhan. Sebab seseorang melihat bahwa saat seseorang tidak memahami nasib, apabila seseorang tidak mengerti kedaulatan Tuhan, ketika seseorang meraba-raba ke depan secara sadar, sempoyongan dan terhuyung, melalui kabut, perjalanannya menjadi terlalu sulit, terlalu menyakitkan hati. Jadi, ketika orang-orang mengakui kedaulatan Tuhan terhadap nasib manusia, mereka yang bijak akan memilih untuk mengenalnya dan menerimanya, berpisah dengan hari-hari pedih ketika mereka mencoba membangun kehidupan yang baik oleh kedua tangan mereka sendiri, alih-alih melanjutkan pergumulan melawan nasib dan mengejar yang mereka sebut tujuan hidup dengan cara mereka sendiri. Ketika seseorang tidak punya Tuhan, saat seseorang tidak bisa melihat-Nya, saat ia tidak mengakui kedaulatan Tuhan, setiap harinya menjadi tidak berarti, tidak bernilai, penuh kesusahan. Di mana pun seseorang, apa pun pekerjaannya, cara hidupnya dan pengejaran tujuan hidupnya tidak akan menghasilkan apa pun selain sakit hati dan penderitaan tanpa ujung, sehingga ia tidak mampu melihat ke belakang. Hanya ketika seseorang menerima kedaulatan Sang Pencipta, tunduk kepada pengaturan dan penataan-Nya, dan mencari kehidupan manusia yang sejati, barulah ia akan berangsur-angsur terbebas dari segala sakit hati dan penderitaan, menyingkirkan segala kekosongan dalam hidup” (“Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik III” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”) Tuhan adalah Pencipta, dan manusia adalah makhluk ciptaan-Nya. Kehidupan setiap orang berada di tangan Tuhan, di bawah pengaturan dan penataan-Nya. Semua yang diperoleh manusia dalam hidup berada dalam kendali Tuhan, dan telah ditakdirkan oleh Tuhan. Manusia yang bergegas ke sana kemari bukan merupakan faktor penentu. Betapapun banyaknya yang Tuhan berikan kepada manusia, itulah yang bisa dia dapatkan. Jika Tuhan tidak memberikan pemberian seperti itu, sebanyak apa pun manusia bekerja, usahanya akan sia-sia. Itu seperti ungkapan “Manusia menanam benih, tetapi Surga yang memutuskan panennya,” dan “Manusia berencana, Tuhan yang menentukan.” Oleh karena itu, dalam hidup kita, kita harus tunduk kepada kedaulatan dan penataan sang Pencipta. Inilah rahasia menuju kebahagiaan dalam hidup, dan inilah kehidupan yang sesungguhnya! Pada saat yang sama, aku juga mengerti, bahwa terlepas dari sebanyak apa pun kekayaan yang dimiliki seseorang, atau setinggi apa pun posisi yang dipegangnya, semua ini hanyalah harta duniawi. Dia tidak membawa semuanya ketika dia lahir dan dia tidak bisa membawa semuanya setelah dia mati. Dalam mengabdikan dirinya untuk mengejar popularitas dan keuntungan, apa yang dia dapatkan pada akhirnya adalah kekosongan dan penderitaan, dan hasil akhirnya adalah bahwa dia dikuasai oleh Iblis. Setelah mencapai pemahaman ini, aku memutuskan untuk menempuh cara hidup yang berbeda, untuk memulai yang baru. Aku hanya ingin mematuhi pengaturan dan penataan Tuhan, dan untuk menyerahkan paruh kedua hidupku di tangan Tuhan untuk Dia atur. Aku tidak akan lagi mengejar kekayaan dan status untuk memenangkan kekaguman dari orang lain, tetapi sebaliknya aku akan berusaha untuk menjadi seseorang yang menaati Tuhan, aku akan hidup benar-benar untuk Tuhan dan hidup untuk membalas kasih Tuhan. Sekarang, aku bekerja selama tiga hingga empat jam setiap hari. Atasanku orang Jepang. Meskipun kami mengalami kendala bahasa, atasanku merawatku dengan baik. Setiap kali dia menyuruhku untuk melakukan sesuatu, dia selalu menggunakan kata-kata sederhana yang bisa aku mengerti dan tidak pernah memberiku tekanan. Aku tahu bahwa ini adalah rahmat Tuhan kepadaku, dan berkat-Nya. Aku merasa sangat bersyukur. Pada saat yang sama, aku telah memahami dengan lebih baik bahwa jika manusia mendengarkan firman Tuhan, dan tunduk pada pengaturan dan penataan-Nya, baru kemudian dia akan bisa menjalani kehidupan yang santai dan menyenangkan.

Setiap kali aku sendirian, aku sering kali memikirkan kembali jalan yang aku ambil untuk datang ke hadapan Tuhan. Jika bukan karena penyakitku, aku tidak akan menghentikan pencarianku akan uang dan popularitas, dan aku masih akan menjadi mesin penghasil uang yang sempurna di dunia ini, tepat sampai aku dibunuh dengan kejam oleh Iblis, tidak pernah berpikir untuk bertobat atau mengubah caraku. Iblis menggunakan popularitas dan keuntungan untuk melukaiku, membuatku menjadi sakit, tetapi Tuhan Yang Mahakuasa menggunakan penyakitku untuk membawaku ke hadapan-Nya, memampukanku untuk dengan jelas memahami firman Tuhan bahwa Iblis adalah pelaku utama dalam perusakan terhadap manusia, dan untuk mengenali sifat sebenarnya dari rancangan Iblis dalam menggunakan uang dan popularitas untuk merusak dan menghabisi manusia, membuatku memahami beberapa aspek dari dunia biasa. Aku tahu dari mana manusia datang, dan ke mana manusia akan pergi, aku juga tahu sumber dari dosa dan kebobrokan manusia, dan aku mengerti bagaimana manusia harus menjalani kehidupan yang bermakna. Firman Tuhan menyatakan: “Ada sebagian orang yang baru saja mulai percaya kepada Tuhan dikarenakan penyakit. Penyakit ini adalah kasih karunia Tuhan bagimu; tanpanya, engkau tidak akan percaya kepada Tuhan, dan jika engkau tidak percaya kepada Tuhan, engkau tidak akan sampai sejauh ini—maka, kasih karunia ini adalah kasih Tuhan” (“Hanya Dengan Mengalami Ujian-Ujian yang Menyakitkan Engkau Semua Bisa Mengenal Kasih Tuhan” dalam “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”). Firman Tuhan benar-benar nyata. Hanya melalui musibahlah aku mendapatkan berkat! Saat ini, di bawah persediaan dan bimbingan dari firman Tuhan, aku telah melepaskan ikatan Iblis, dan memiliki pandangan yang benar tentang kehidupan. Aku telah berjalan di jalan kehidupan yang benar, dan rohku telah sangat terbebaskan. Tuhan benar-benar sangat bijak, sangat mahakuasa! Aku bersyukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa karena mengasihi dan menyelamatkanku!

Firman Tuhan Harian – “Kristus Melakukan Pekerjaan Penghakiman dengan Kebenaran” – Kutipan 79

Firman Tuhan Harian – “Kristus Melakukan Pekerjaan Penghakiman dengan Kebenaran” – Kutipan 79

Pekerjaan penghakiman adalah pekerjaan Tuhan sendiri, jadi sewajarnya harus dilakukan oleh Tuhan sendiri; Pekerjaan itu tidak bisa dilakukan oleh manusia atas nama-Nya. Karena penghakiman adalah penaklukan ras manusia melalui kebenaran, tidak diragukan lagi bahwa Tuhan tetap muncul sebagai gambar inkarnasi untuk melakukan pekerjaan-Nya di antara manusia. Dengan kata lain, di akhir zaman, Kristus akan menggunakan kebenaran untuk mengajar manusia di seluruh bumi dan mengungkapkan semua kebenaran kepada mereka. Inilah pekerjaan penghakiman Tuhan. Banyak orang memiliki perasaan tidak enak tentang inkarnasi Tuhan yang kedua, karena manusia sulit percaya bahwa Tuhan akan menjadi daging untuk melakukan pekerjaan penghakiman. Namun demikian, Aku harus mengatakan kepadamu bahwa seringkali pekerjaan Tuhan sangat melampaui perkiraan manusia dan sulit bagi pikiran manusia untuk menerimanya. Karena manusia hanyalah belatung di atas bumi, sedangkan Tuhan adalah Yang Mahatinggi yang memenuhi alam semesta. Pikiran manusia mirip dengan lubang air kotor yang hanya menghasilkan belatung, sedangkan setiap tahap pekerjaan yang diarahkan oleh pikiran Tuhan adalah hasil penyulingan hikmat Tuhan. Manusia terus-menerus ingin berbantah dengan Tuhan, yang tentang itu Aku berkata bahwa sudah jelas siapa yang akan menderita kekalahan pada akhirnya. Aku menasihati engkau semua agar tidak menganggap dirimu lebih penting dari emas. Jika orang lain bisa menerima penghakiman Tuhan, mengapa engkau tidak? Apakah engkau jauh lebih tinggi di atas orang lain? Jika orang lain bisa menghormati kebenaran, mengapa engkau tidak bisa melakukan hal itu juga? Pekerjaan Tuhan memiliki momentum yang tak terhentikan. Dia tidak akan mengulangi lagi pekerjaan penghakiman hanya demi “kebaikan” engkau, dan engkau akan dipenuhi dengan penyesalan yang tak berujung karena membiarkan kesempatan seperti ini berlalu. Jika engkau tidak percaya perkataan-Ku, tunggu saja takhta putih yang besar di angkasa itu memberi engkau penghakiman! Engkau harus tahu bahwa semua orang Israel menolak dan menyangkal Yesus, namun fakta penebusan Yesus bagi umat manusia masih tersebar sampai ke ujung semesta. Bukankah ini kenyataan yang Tuhan buat sejak dahulu kala? Jika engkau masih menantikan Yesus untuk membawa engkau ke surga, Aku berkata bahwa engkau sama keras kepalanya seperti sepotong kayu mati. Yesus tidak akan mengakui orang percaya palsu sepertimu yang tidak setia pada kebenaran dan hanya mencari berkat. Sebaliknya, Dia tidak akan menunjukkan kemurahan saat melemparkan engkau ke dalam lautan api untuk dibakar selama puluhan ribu tahun lamanya.

Dikutip dari “Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia”

Renungan Harian Kristen membahas topik-topik seperti gadis-gadis yang bijaksana yang menyambut Tuhan, bagaimana diangkat ke dalam kerajaan surga, diselamatkan dan keselamatan penuh, yang membantu Anda mengetahui penampakan dan pekerjaan Tuhan di akhir zaman dan menyambut kedatangan kembali Tuhan Yesus.

Lagu Kristen Terbaru 2020 – Engkau Harus Memperhatikan untuk Menenangkan Hatimu di Hadapan Tuhan

Lagu Kristen Terbaru 2020 – Engkau Harus Memperhatikan untuk Menenangkan Hatimu di Hadapan Tuhan

Hati yang tenang di hadapan Tuhan takkan terganggu dunia,

baik orang atau tindakan; tenang di hadapan-Nya.

Semua yang negatif hilang, entah pemikiran buruk,

filosofi, relasi yang salah; tenang di hadapan-Nya.

Tenang di hadapan-Nya,

nikmati firman-Nya, nyanyi dan puji nama-Nya.

Biarkan Dia bekerja atasmu; Dia mau s’mpurnakanmu.

Ikuti tuntunan Roh Kudus dan hidup di hadapan-Nya,

kau ‘kan puaskan Tuhan.

Tenang di hadapan-Nya.

Kar’na merenungkan firman Tuhan,

hatimu mendekat pada-Nya,

kau dipenuhi dengan firman-Nya yang nyata.

Hal positif ‘kan gantikan praktik dan paham lamamu.

Abaikan yang negatif, tak perlu mengendalikannya.

Hidup dalam firman, s’ring berkomunikasi,

agar dicerahkan dan diterangi Roh-Nya.

Maka gagasan, kesombonganmu ‘kan sirna.

Dan kau ‘kan pahami cara puaskan Tuhan,

tanpa sadar lupakan s’mua yang bukan Dia.

Tenang di hadapan-Nya,

nikmati firman-Nya, nyanyi dan puji nama-Nya.

Biarkan Dia bekerja atasmu; Dia mau s’mpurnakanmu.

Dia mau m’nangkan hatimu; Roh-Nya bekerja.

Ikuti tuntunan Roh Kudus dan hidup di hadapan-Nya,

kau ‘kan puaskan Tuhan. Tenang di hadapan-Nya,

kau ‘kan puaskan Tuhan. Tenang di hadapan-Nya.

dari “Ikuti Anak Domba dan Nyanyikan Lagu Baru”

Rekomendasi: cara mendekatkan diri kepada tuhan

Kesaksian Rohani Kristen Terbaru 2020 – Siapa Orang Farisi Masa Kini?

Kesaksian Rohani Kristen Terbaru 2020 – Siapa Orang Farisi Masa Kini?

Tokoh utama adalah seorang Kristen taat yang menerima Injil akhir zaman Tuhan Yang Mahakuasa setelah bertahun-tahun melayani Tuhan sepenuh hati. Karena para pendeta gerejanya yang lama menguasai Alkitab dan sering kali mengajar jemaat mereka untuk berjaga-jaga akan kedatangan Tuhan kembali, dia percaya bahwa jika mereka membaca firman Tuhan Yang Mahakuasa, mereka pasti akan mengenali suara Tuhan dan mengakui Tuhan Yang Mahakuasa sebagai Tuhan Yesus yang datang kembali, dan kemudian dengan senang hati menyambut Tuhan. Namun, yang mengejutkan dia, saat para pendeta mendengar berita kedatangan Tuhan, mereka tidak hanya menolak untuk belajar lebih banyak tentang itu, tetapi berusaha keras untuk menghentikan dia menerima jalan yang benar. Mereka menyebarkan ajaran sesat dan keliru untuk menipu dan mengganggu saudara dan saudari di gereja agar mereka tidak menyelidiki jalan yang benar. Mereka bahkan mencoba membuat dia melepaskan imannya kepada Tuhan Yang Mahakuasa dengan mengancam akan menghentikan layanan gerejanya dan mengeluarkannya dari gereja. Namun, perilaku para pendeta dengan jelas menunjukkan corak asli dari para pendeta dan penatua itu—yaitu orang-orang munafik yang menentang Tuhan—dan dia melihat bahwa mereka memang orang Farisi masa kini. Dia membebaskan diri dari kerangkeng dan kendali mereka serta menjadi lebih bertekad untuk mengikuti Tuhan Yang Mahakuasa.

Ketenaran dan Kekayaan Pembawa Sengsara

Ketenaran dan Kekayaan Pembawa Sengsara

Pada satu musim semi, aku dan beberapa dokter senior piknik dan masak-masak. Dalam perjalanan, beberapa warga desa mengenali dr. Wang. Mereka tampak sangat bahagia dan bersyukur. Mereka menyapanya dengan hangat. Saat sedang memasak, kami sadar kalau ada beberapa bahan yang kurang. Warga desa di sana sangat baik. Mereka melihat kami butuh sesuatu dan menawarkan yang mereka punya kepada kami. Beberapa kebutuhan pokok sedang langka saat itu dan cukup berharga. Misalnya, susu. Banyak orang harus mengantre untuk mendapatkannya. Namun, para pekerja pabrik susu membawakannya langsung kepada kami … Semua ini berkat reputasi dr. Wang. Kulihat mata dr. Wang menyipit saat dia tersenyum, aku langsung merasa iri dan berpikir: “Orang-orang benar-benar menghormati dr. Wang! Mereka menghormatinya ke mana pun dia pergi dan dia tak perlu mencemaskan soal apa pun. Dia hanya perlu menunjukkan wajahnya dan semua akan beres. Sementara aku, aku hanyalah dokter klinik yang tidak dikenal. Aku tak diperlakukan seperti itu. Aku hanya bisa turut menikmati ketenarannya.” Namun kemudian, dalam kekecewaanku, aku melihat rambut dr. Wang yang memutih dan berpikir: “Bukankah aku masih muda? Kalau aku mendalami ilmu kedokteran dan belajar dari para dokter kawakan, lambat laun aku bisa terkenal dan dihormati seperti mereka, asalkan aku mau bekerja keras.”

Lalu, setelah satu bulan terus berusaha, aku bisa bertugas mandiri serta berpeluang untuk praktik operasi. Namun, ini baru permulaan. Aku tetap harus bekerja lebih keras. Maka aku terus mempelajari teori-teori kedokteran. Aku mengikuti ujian kemahiran dan mengikuti semua jenis kelas perbaikan di luar jam kerjaku. Kalau ada operasi darurat, baik itu dalam jam kerjaku atau tidak, aku tak pernah menolak kesempatan praktik operasi. Terkadang saat sibuk mengoperasi, aku sampai kelaparan, tetapi aku tak bisa menjaga tubuhku sendiri karena dalam operasi tak boleh ada kesalahan. Terkadang aku bahkan harus bekerja 24 jam penuh. Seusai kerja, otakku tak bisa berpikir dan tubuhku kelelahan. Aku sangat ingin beristirahat, tetapi aku ingat nasihat ayahku, “Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian,” serta kisah-kisah soal bekerja keras demi meraih tujuanmu. Maka kudorong diriku untuk terus lanjut dan memaksa diri untuk terus bekerja keras. Begitu tiba di rumah pada malam hari, aku langsung berbaring. Aku meregangkan dan melemaskan tubuhku yang kelelahan dan nyeri. Saat kumenutup mata, berharap tertidur, setiap detail dari operasi berkelebat di benakku. Aku takut keadaan jiwaku yang mencemaskan ini bisa menyebabkan kesalahan saat aku mengoperasi. Aku memikirkan rekan-rekan lamaku yang membuat kesalahan kecil dalam pekerjaan dan tak boleh lagi mengoperasi. Kalau sampai ada yang salah, aku takkan bisa sukses. Aku langsung merasa stres, lelah, ketakutan, dan cemas Pikiran dan tubuhku sangat lelah. Terkadang aku akan memikirkan jadwal operasi pilihan untuk esok hari dan selarut apa pun, saat tiba di rumah aku pasti berulang kali memeriksa dan memperbaiki informasi medis yang kubutuhkan untuk operasi besok agar aku tak membuat kesalahan. Aku sangat lelah, tetapi kudorong diriku agar suatu hari nanti aku bisa sukses: “Bekerja keras! Badai pasti berlalu!”

Akhirnya, setelah bekerja keras dengan gigih selama tujuh tahun, aku menjadi dokter bersertifikat. Saat itu, kata-kata yang terngiang di benakku adalah: Semua ini sepadan! Saat pangkatku naik, tarifku pun ikut naik. Aku melakukan semua operasi yang hanya bisa dilakukan oleh dokter bersertifikat dan namaku ada dalam daftar kepala bedah. Gaji dan statusku naik sementara rekan-rekanku tertinggal. Aku merasakan kebahagiaan yang sulit kuungkapkan, terutama di jalanan yang ramai, saat orang-orang mengenaliku. Aku tidak kenal mereka, tetapi mereka mengenalku. Mereka bahkan memuji kalau aku adalah dokter bedah yang baik. Rasa kagum dari para pasien dan hal-hal yang mereka katakan: “Aku menemuimu satu kali dan tak lama kemudian kesehatanku membaik tanpa membayar mahal, sementara dengan dokter lain, aku tak kunjung membaik meski sudah lama berobat …” Beberapa orang juga bilang: “Katanya kau dokter yang cakap. Dia menyarankanku untuk menemuimu. Sekarang sulit sekali bertemu denganmu …” Saat mendengar hal-hal ini, aku tersenyum lebar. Hatiku merasa sangat bahagia. Orang-orang masih mengingat hal-hal ini setelah sekian lama dan yang lain bahkan menemuiku karena aku terkenal. Tiba-tiba aku merasa kalau reputasiku sudah berkembang dan kini aku tahu rasanya sukses. Namun, setelah kebahagiaan itu, aku berpikir kalau jalanku masih jauh untuk menjadi dokter pemeriksa. Aku hanya bisa melakukan operasi normal. Kalau aku menjadi dokter pemeriksa dan bisa melakukan operasi yang lebih besar, para pasien akan makin mengagumiku dan makin banyak orang ingin menemuiku. Bukankah statusku di mata mereka juga akan meningkat?

Setelah itu, aku mempercepat langkahku untuk meraih ketenaran dan kekayaan. Suamiku mengeluh dan kami sering bertengkar, katanya waktuku untuknya makin sedikit. Aku merasa letih dan dizalimi, dan aku terus bertanya kepada diriku sendiri: “Untuk apa semua jerih payahku itu? Bukankah demi karier yang sukses dan hidup yang nyaman? Apakah aku melakukan kesalahan? Tidak. Suamikulah yang tidak masuk akal. Dia tak punya ambisi.” Aku menyeka air mataku dan melamar untuk pindah ke unit medis di tingkat kotamadya untuk melanjutkan studi, meningkatkan keterampilan medisku, dan menjadi dokter pemeriksa. Ini kesempatan langka dan tak mau kusia-siakan. Namun, saat pelatihan, tak kusangka aku hamil. Saat tahu kalau aku hamil, aku merasa kebingungan, aku sama sekali tidak merasa kalau ini waktu yang tepat untuk punya anak. Aku berupaya begitu keras untuk mendapatkan kesempatan ini, aku tak bisa berhenti hanya karena seorang anak dan merusak peluangku. Namun, aku memikirkan bayi itu. Aku tak mau menggugurkannya. Kemudian, karena berdiri terlalu lama saat mengoperasi dan bekerja terlalu keras, juga melewatkan waktu makanku untuk melakukan operasi dadakan, akhirnya aku keguguran. Namun, aku tak pernah sedikit pun berhenti mengejar ketenaran dan . Aku ingin kembali bekerja di rumah sakit satu hari setelah janinku diangkat, tetapi tubuhku sangat lemah pada hari itu. Aku merasa tubuhku tidak keruan. Perutku sakit dan badanku lemah. Aku hanya bisa berbaring di ranjang dan istirahat. Namun, aku tak memikirkan soal bayiku yang keguguran, atau cara mengurus tubuhku sendiri, aku hanya mencemaskan soal waktu studiku yang tertunda dan bisa memengaruhi wisudaku. Apakah semua ini akan sia-sia?

Setelah bekerja tak kenal lelah selama tujuh tahun lagi, akhirnya aku mendapatkan posisi dokter pemeriksa yang kuidam-idamkan. Semua pasien yang pernah kurawat menyapa saat melihatku dan bilang ke orang-orang di dekat mereka, “Dokter Tian mengoperasiku dan menyelamatkan hidupku.” Beberapa pasien mengunjungiku di rumah, membawakan bermacam-macam panganan lokal. Ada yang membawakan hadiah dan kupon belanja untuk menunjukkan rasa terima kasihnya. Kadang, aku makan di restoran dan saat melihatku, mereka membayar tagihanku tanpa sepengetahuanku. Meski semua ini membuat orang iri, kebahagiaanku hanyalah sementara. Tak ada yang tahu kesulitan dan penderitaan di balik kebahagiaanku. Kita tak bisa salah sedikit pun saat operasi, atau konsekuensinya akan mengerikan, dan aku selalu cemas akan membuat kesalahan yang bisa menghancurkanku. Aku sangat berhati-hati, bak berjalan di atas duri. Aku terlalu stres, pikiranku tak bisa mengatasinya. Kesehatanku terkena dampaknya dan berat badanku turun sampai hanya sekitar 45 kg. Karena terlalu lama bekerja terlalu keras, kesehatanku memburuk sampai-sampai aku tersiksa oleh insomnia, nyeri perut, dan kolesistitis. Aku tak bisa makan dan tidur. Aku terjaga sepanjang malam dan minum sampai empat butir obat tidur, tetapi tak ada gunanya. Pada siang hari aku linglung dan tak bertenaga. Kakiku terasa seperti terbuat dari timah. Sungguh berat. Aku hanya bisa tersenyum kecut dan berpikir: “Aku sudah dapat status dan rasa kagum dari orang lain, tetapi kini aku bahkan tak bisa tidur atau makan seperti orang normal.” Aku bahkan ingin menghindari bekerja, semuanya, dan hanya ingin tidur nyenyak, tetapi itu hanyalah angan-angan belaka. Parahnya lagi, pada saat aku butuh dijaga dan dirawat, suamiku malah keluar minum dan bersenang-senang, dan aku harus menghadapi kesedihanku seorang diri. Aku merana dan merasa putus asa pada malam-malam itu. Aku susah tidur dan sering kali bermimpi terlontang-lantung dalam kegelapan, tak bisa melihat arah tujuanku atau jalan pulang. Aku ketakutan dan kesusahan. Suatu kali, aku tersentak bangun dari tidurku, menangis, “Ah!” Dahiku berkeringat. Kunyalakan lampu, duduk di tepi ranjang, dan membayangkan rasa hormat dari pasien dan pujian dari keluargaku, tetapi itu tidak mengurangi rasa sakitku sama sekali. Mengingat kembali semua jerih payahku selama bertahun-tahun itu, aku terus bertanya: “Aku sudah bekerja keras separuh hidupku supaya bisa sukses, tetapi pada akhirnya, selain momen kejayaan yang singkat itu, yang kudapatkan hanyalah tubuh yang sakit, suami yang berkhianat, serta rasa sakit dan penderitaan tiada akhir. Kenapa begitu? Bagaimana seharusnya agar seseorang bisa memiliki hidup yang bermakna dan bermanfaat?” Aku benar-benar ingin lepas dari rasa sakitku. Aku menemui peramal, aku mencari jawaban pada kutipan orang-orang terkenal, dan mencoba “energi positif” yang digembor-gemborkan orang-orang. Aku membuka Internet dan coba mencari jawaban dalam ajaran agama Buddha, tetapi tak ada jawaban yang memuaskan dan sama sekali tidak memecahkan masalahku. Saat rasa sakitku tak tertahankan lagi, saat aku putus asa atau tak bisa menemukan cara untuk maju, karunia penyelamatan Tuhan Yang Mahakuasa mendatangiku.

Setelah menemukan imanku pada Tuhan, kutemukan jawaban dalam firman Tuhan. Tuhan berfirman: “Orang mengira setelah memiliki ketenaran dan keuntungan, mereka kemudian dapat memanfaatkan hal-hal tersebut untuk menikmati status yang tinggi dan kekayaan yang besar, serta menikmati hidup. Mereka menganggap ketenaran dan keuntungan adalah semacam modal yang bisa mereka gunakan untuk memperoleh kehidupan yang penuh pencarian akan kesenangan dan kenikmatan daging yang sembrono. Demi ketenaran dan keuntungan yang begitu didambakan umat manusia ini, orang-orang bersedia, meskipun tanpa sadar, menyerahkan tubuh, pikiran mereka dan semua yang mereka miliki, masa depan dan nasib mereka kepada Iblis. Mereka melakukannya bahkan tanpa sedikit pun keraguan, tanpa pernah tahu akan perlunya memulihkan semua yang telah mereka serahkan. Dapatkah orang tetap memegang kendali atas diri mereka sendiri setelah mereka berlindung kepada Iblis dengan cara ini dan menjadi setia kepadanya? Tentu saja tidak. Mereka sama sekali dan sepenuhnya dikendalikan oleh Iblis. Mereka telah sama sekali dan sepenuhnya tenggelam dalam rawa, dan tidak mampu membebaskan dirinya. Begitu seseorang terperosok dalam ketenaran dan keuntungan, mereka tidak lagi mencari apa yang cerah, apa yang benar, atau hal-hal yang indah dan baik. karena daya pikat ketenaran dan keuntungan terlalu besar. Semua itu dapat dikejar seumur hidup, atau bahkan sampai selamanya. Bukankah benar demikian?” (Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia). Firman Tuhan mencerahkan hatiku. Aku ingat saat pergi masak-masak dengan dr. Wang, ketika kutetapkan dalam hatiku asalkan aku punya status, dan keterampilan medis tingkat tinggi, orang-orang akan menghormatiku, aku akan diperlakukan spesial, dan hidupku akan mudah. Aku juga menelan racun iblis seperti “Manusia mati meninggalkan nama,” “Unggul dari yang lain,” dan “Manusia bergelut ke atas; air mengalir ke bawah,” sampai-sampai mengejar ketenaran dan kekayaan menjadi pencarian dan tujuan dalam hidupku. Aku terus bekerja keras agar karierku menanjak. Setelah mendapatkan rasa hormat dan pujian dari orang-orang di dekatku, aku merasa sukses, sehingga membuatku merasa wajib untuk terus mengikuti jalan yang salah. Aku habiskan lebih dari 10 tahun terbaikku mengejar ketenaran dan kekayaan, mengorbankan keluarga dan anak dalam kandunganku. Aku merusak kesehatanku dan berakhir dengan tubuh yang sakit. Sayang sekali rasanya setelah semua pengorbananku, barulah aku berpikir: “Apalah gunanya ketenaran dan kekayaan bagiku? Mengejarnya telah membuatku lelah dan menderita, dan setelah mendapatkannya, aku tetap sangat menderita. Jelas, mengejar ketenaran dan kekayaan pada akhirnya adalah jalan yang salah.” Akhirnya aku paham, berjuang demi mendapat ketenaran dan kekayaan adalah kekuatan jahat yang membelit orang-orang bak tali dan mencekik mereka. Rasanya bagaikan kuk yang dipasang Iblis di sekujur tubuhku sehingga aku rela menderita dan mengorbankan segalanya. Akhirnya, Iblis mendapatkan keinginannya. Seperti dalam firman Tuhan: “Iblis menggunakan ketenaran dan keuntungan untuk mengendalikan pikiran manusia sampai hanya itulah yang mereka pikirkan. Demi ketenaran dan keuntungan, mereka bergumul, menderita kesukaran, dan menanggung penghinaan. Mereka mengorbankan segalanya dan membuat penilaian atau keputusan apa pun demi ketenaran dan keuntungan. Dengan cara ini, Iblis mengikat orang dengan belenggu yang tak kasat mata, dan mereka tidak punya kekuatan ataupun keberanian untuk membuang belenggu tersebut. Mereka tanpa sadar menanggung belenggu ini dan berjalan maju dengan susah payah. Demi ketenaran dan keuntungan ini, umat manusia menjauhi Tuhan dan mengkhianati Dia dan menjadi semakin jahat. Akibatnya setiap generasi dihancurkan di tengah ketenaran dan keuntungan Iblis” (Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia). Aku melihat betapa Iblis penuh kebencian dan aku bersyukur kepada Tuhan dari dasar lubuk hatiku. Tepat saat Iblis berhasil memojokkanku, Tuhan tidak hanya berdiam diri dan menyaksikan, Ia mengulurkan tangan penyelamat-Nya kepadaku, menenangkanku dengan firman-Nya, menyemangatiku, dan membantuku menemukan sumber penderitaanku. Hanya Tuhanlah yang begitu mencintai manusia. Ia menjadi daging untuk mengungkap kebenaran, mengajarkan kita untuk melihat mana yang baik dan yang buruk, yang positif dan yang negatif. Aku sadar aku tak bisa terus mengikuti jalan yang salah, menghabiskan waktuku mengejar ketenaran dan keuntungan. Aku harus menyembah sang Pencipta. Setelah itu, aku habiskan lebih banyak waktu senggangku membaca firman Tuhan dan bersekutu dengan saudara-saudariku untuk hal-hal yang tidak kupahami, jadi, kami bisa saling bantu dan mendukung. Tak lama, aku memahami beberapa kebenaran dan makin memahami beberapa hal. Pikiranku jauh lebih santai. Perlahan-lahan, insomniaku membaik. sakit perut dan kantung empeduku juga membaik. Inilah hal-hal yang tak bisa kudapatkan dari mengejar ketenaran dan keuntungan. Aku benar-benar merasakan suka cita kebebasan spiritual.

Setelah itu, aku melihat rekan-rekanku berupaya mendapatkan promosi dan mereka yang memiliki kemampuan profesional di bawahku, beberapa bahkan orang yang pernah kulatih, semua menjadi asisten profesor. Aku sedikit merasa tertinggal. Kupikir jika kesehatanku tidak memburuk dan membuatku tertinggal sekitar 10 tahun, melihat keahlianku, setidaknya aku pasti bisa menjadi asisten profesor. Namun, mengingat kembali bagaimana dulu aku mengejar promosi dan berujung dengan tubuh yang sakit, rasa nyeri, dan menderita, aku sadar kalau ini adalah salah satu tipu muslihat Iblis. Iblis memanfaatkan keinginanku untuk merayuku kembali ke dalam pusaran ketenaran dan keuntungan. Kalau aku mulai mengejar ketenaran dan keuntungan lagi, bisa-bisa nyawaku yang hilang. Apa gunanya? Aku memikirkan sesuatu yang dikatakan Tuhan Yesus: “Karena apa untungnya jika seseorang mampu mendapatkan seluruh dunia, dan kehilangan jiwanya sendiri? Atau apa yang bisa diberikan seseorang sebagai ganti jiwanya?” (Matius 16:26). Lalu Tuhan Yang Mahakuasa berfirman: “Sebagai seorang yang normal dan yang berupaya keras untuk mengasihi Tuhan, masuk ke dalam kerajaan untuk menjadi salah satu dari antara umat Tuhan adalah masa depanmu yang sejati dan suatu kehidupan yang paling berharga dan penting; tidak ada yang lebih diberkati dari dirimu. Mengapa Kukatakan demikian? Sebab mereka yang tidak percaya kepada Tuhan hidup untuk daging, dan mereka hidup untuk Iblis, tetapi sekarang, engkau hidup untuk Tuhan, dan hidup untuk melakukan kehendak Tuhan. Itu sebabnya Kukatakan bahwa hidupmu adalah hidup yang paling bermakna” (Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia). Aku memahami kehendak Tuhan melalui firman-Nya. Setinggi apa pun status kita, apa pun reputasi kita, mengejar ketenaran dan kekayaan adalah jalan yang salah dan jalan itu berujung kematian. Kita tak bisa menerima berkat atau perlindungan Tuhan jika mengambil jalan ini. Hanya dengan mengejar kebenaran dan menjalankan tugas, melenyapkan kerusakan kita dengan mengalami pekerjaan Tuhan dan coba mengenal-Nya, barulah kita bisa memiliki hidup yang bermakna dan bermanfaat, dan pada akhirnya kita akan menerima berkat-Nya. Inilah masa depan sejati yang harus dimiliki seseorang. Kalau aku terus coba memuaskan nafsu duniawiku, Tuhan tidak akan memberkatiku, Ia bahkan akan membenciku. Ini beberapa contoh nyata dari orang-orang yang kukenal: Putri bosku adalah sarjana, memiliki karier yang bagus, dan tinggal di luar negeri. Namun, setelah melewati persaingan sengit dan terlalu stres selama bertahun-tahun, dia terkena depresi, terjun dari atas bangunan, dan tewas. Lalu putra temanku, yang menjadi manajer pada usia muda dan mencapai kesuksesan, terkena sirosis hati karena terlalu banyak minum miras ketika bergaul. Dia meninggal bahkan tak sampai enam bulan kemudian, lalu rambut temanku memutih dalam semalam akibat kesedihannya. Aku ingat pernah membaca firman Tuhan ini: “Orang menyadari bahwa uang tidak bisa membeli hidup, bahwa ketenaran tidak bisa menghapus kematian, bahwa baik uang maupun ketenaran tidak dapat memperpanjang hidup orang barang semenit atau sedetik pun” (Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia). Ketenaran dan keuntungan tidak bisa melenyapkan penderitaan dan menyelamatkan nyawa kita. Hal ini hanya bisa memancing kita kembali ke dalam jurang kematian setelah merasakan kebahagiaan singkat. Setelah memahami hal ini, aku tak pernah terganggu atau terpengaruh oleh orang-orang di sekitarku lagi. Aku jadi ikhlas menghabiskan waktuku yang terbatas untuk mengejar kebenaran dan mengenal Tuhan, hidup sesuai dengan tuntutan Tuhan dan menjalankan tugasku dalam rumah Tuhan.

Suatu hari, aku ditelepon direktur rumah sakit lain. Dia bilang, “Karena kau sudah pensiun, kami mau mengadakan jamuan makan untuk merayakannya, dan kita bisa bahas soal kolaborasi yang pernah kita bicarakan. Kami ingin memajang izin praktik dokter pemeriksamu di rumah sakit kami untuk menarik mantan pasienmu. Kau juga bisa bekerja untuk kami, atau menjadi pemegang saham. Terserah kau.” Saat mendengarnya, aku berpikir, “Aku sudah habiskan sebagian besar hidupku mengejar ketenaran dan keuntungan, lalu apa yang kudapat? Apa aku mau menghabiskan seluruh hidupku terbenam dalam ketenaran dan keuntungan? Menghilangkan penderitaan dari mengejar ketenaran dan kekayaan tidaklah mudah. Aku tak perlu terjaga setiap malam lagi, atau selalu hidup penuh kecemasan dan ketakutan. Aku sudah merasakan kedamaian batin yang kudapatkan dari memercayai Tuhan dan memahami kebenaran. Sebaiknya kucengkeram kebahagiaan ini erat-erat. Lagi pula, meski aku hanya perlu memajang izin praktikku di rumah sakit itu, kalau ada masalah, aku tetap harus datang, dan bukankah itu akan menggangguku dalam menjalankan tugasku?” Aku memikirkan firman Tuhan Yang Mahakuasa: “Sekarang ini, setiap hari yang engkau semua jalani sangatlah penting, dan itu sepenuhnya penting bagi tempat tujuan dan nasibmu, jadi engkau semua harus menghargai segala sesuatu yang engkau miliki hari ini, dan menghargai setiap menit yang berlalu. Engkau semua harus mendapatkan waktu sebanyak-banyaknya, sebisa mungkin, untuk memperoleh manfaat terbesar bagi dirimu sendiri, supaya engkau tidak menjalani hidup ini dengan sia-sia” (Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia). Aku beruntung mendapatkan kesempatan langka untuk menemukan Tuhan. Tuhanlah yang membuatku memahami makna hidup dan menarikku keluar dari jurang penderitaan. Mana mungkin aku kembali ke pelukan Iblis? Pekerjaan Tuhan hampir selesai dan aku belum mendapatkan kebenaran. Aku harus mensyukuri setiap hari dan mengejar kebenaran dalam waktuku yang terbatas ini. Seperti itulah hidup yang indah! Setelah memahami kehendak Tuhan, aku menolak tawaran sang direktur. Begitu menutup telepon, aku merasa sangat merdeka. Aku langsung bilang, “Seharusnya aku berhenti mengejar ketenaran dan keuntungan sejak dulu.” Rumah sakit lain menghubungiku soal bekerja sama. Kutolak mereka semua. Saat ini, aku memfokuskan diri untuk menjalankan tugasku. Setiap hari aku merasa sangat tenang dan bahagia. Hal ini tak mungkin didapatkan dari kebahagiaan materiil, ketenaran, atau status. Syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa karena telah menyelamatkanku!